Sepenggal
cerita berdasarkan kisah yang -entah nyata atau tidak- pernah penulis dengar dari bibir seseorang...
mungkin di belahan dunia ini, ada kisah (nyata) yang hampir atau bahkan sama dengan cerita
yang saya tulis, atau bahkan dengan akhir yang tidak bahagia. Banyak kemungkinan
yang tak pernah kita duga kan? Karena saya adalah seorang wanita yang menyukai
akhir bahagia dari sebuah cerita fiksi, tak mungkin saya akan tega menulis
cerita ini dengan akhir yang menyedihkan. Yasudah, selamat membaca hihi
___________________________________________________________________________
Maafkan Clara, Ayah
Oleh: Sun'Story
Hari ini matahari kembali tak lembut, seperti hari-hari sebelumnya,
gadis kecil itu bangun tanpa sambutan ayah dan ibunya. Clara, nama gadis kecil
yang kini baru menginjak usia 5 tahun itu sudah tak asing dengan suasana pagi
yang sunyi sepi tanpa ada sapaan hangat dari kedua orang tuanya, karena pagi
buta mereka sudah bergegas untuk bekerja. Clara ditinggal di rumah hanya dengan
pembantu rumah tangga yang di pekerjakan oleh ibunya untuk mengurus rumah,
dapur sekaligus untuk mengasuhnya. Sepi. Itulah yang mungkin selalu dirasakan Clara
setiap harinya. Rumah besar bergaya eropa dengan taman luas yang ditumbuhi
bunga-bunga cantik di dalamnya khusus didesain oleh sang arsitek dengan harapan
akan menjadi rumah yang hangat untuk keluarga yang menempati rumah itu
nantinya, kini seakan hanya ada di angan sang arsitek tersebut. Rumah ini
bahkan terkesan begitu angkuh dan dingin, tak ada kehangatan sama sekali di
dalamnya.
Clara biasa menghabiskan waktunya dengan bermain di taman, sendirian.
Ia mengisi kekosongan dengan bermain ayunan, boneka, masak-masakan, bertanam
lalu memetik bunga-bungga cantik dan atau apapun yang bisa membuatnya tak jenuh
berdiam diri di dalam rumah. Jika kalian bertanya kenapa ia tidak bermain saja
dengan teman-teman yang rumahnya bersebelahan dengannya? atau kenapa ia tak
mengajak pengasuhnya untuk ikut bermain dengannya? Tentu saja, karena ia tak
diperbolehkan oleh orang tuanya bermain keluar rumah dengan alasan bergaul
dengan orang asing tak dikenal dengan baik itu yang ditakutkan akan berimbas
tidak baik untuk Clara dan bla bla bla... alasan khas orang yang hidup di kota
besar, begitu individualis. Ia juga tak mungkin mengajak pembantu rumah atau
bisa disebut juga pengasuhnya untuk menemaninya bermain, karena mbok Ijah –nama
pembantu itu- selalu sibuk membersihkan rumah, mencuci pakaian kotor dan atau
berkutat dengan berbagai alat masak yang ada di dapur.
Pagi ini, orang tua Clara tak menggunakan mobil dan memilih
mengendari motor untuk pergi bekerja untuk menghindari kemacematan. Terlihat
dari mobil ayah Clara yang masih terparkir ‘manis’ di dalam bagasi mobil.
Setelah makan pagi, Clara yang saat itu akan pergi ke taman dalam rumahnya tak
sengaja menemukan sebatang paku di lantai bagasi yang sudah menguning;
berkarat. Menurutnya, paku itu berwarna seperti crayon yang biasa ia gunakan
untuk mewarnai. Ia sangat penasaran apakah benda itu bisa untuk mewarnai atau
mengambar sesuatu apa tidak. Jadi, dengan paku itu ia mencoba mencorat-coret
lantai di bagasi mobil tersebut, tetapi karena lantainya yang terbuat dari
marmer maka coretan yang di hasilkan pun tidak begitu terlihat. Rasa penasaran
itu pun berlanjut. Akhirnya ia pun mencoba membuat coretan pada badan mobil
sang ayah yang masih bisa dibilang masih baru tersebut. Ia memulai membuat
coretan pada badan mobil yang sebelah kanan, kebetulan mobil ayahnya itu
berwana gelap, jadi coretan yang di hasilkan oleh sentuhan jemari kecil Clara pun
terlihat begitu jelas. Clara merasa senang sekali, ia pun membuat lebih banyak
coretan sesuai kreativitasnya dengan senyum yang terus menerus tersungging di
bibir mungilnya. Setelah badan mobil sebelah kanan itu telah penuh dengan
coretan hasil karyanya, ia lalu beralih ke badan mobil sebelah kiri. Disitu ia
membuat gambar ibu, ayah, dan dirinya sendiri yang sedang bergandeng tangan
dengan senyum yang menghiasi wajah mereka, ia juga menggambar seekor ayam,
wajah kucing dan lain sebagainya, mengikuti imajinasi yang bersarang dalam
otaknya saat itu sambil bersenandung kecil. Kejadian tersebut berlangsung tanpa
disadari oleh mbok Ijah yang notabene diberi ‘wanti-wanti’ untuk memperhatikan
tingkah atau hal yang diperbuat dari anak semata wayang pemilik rumah agar
tidak merusak benda-benda yang ada di rumah. Karena menurut pemikiran mereka
–orang tua Clara- anak seusia Clara tak bisa menjaga pola tingkahnya, dan
sering bertidak semaunya, bahkan bisa saja merusak benda-benda mahal yang ada
di dalam rumah mereka. Dan mereka tak mau semua hal itu terjadi.
Senja telah berlalu, meninggalkan guratan-guratan jingga dan kelabu
yang menghiasi langit kota pada sore itu, seolah menjadi pertanda bahwa
waktunya mereka yang seharian bekerja untuk kembali ke pelukkan hangat keluarga
yang telah menanti di rumah.
Betapa kagetnya
Dani dan Santi saat ia pulang ke rumah dan melihat mobil yang baru setahun
mereka beli dengan angsuran yang masih lama lunasnya itu telah penuh dengan
coretan-coretan yang diduga hasil dari goresan paku yang ia ditemukan tepat di
lantai samping badan mobil. Rasa marah yang amat sangat itu pun seketika itu
menyeruak pada diri mereka masing-masing.
“KERJAAN SIAPA INI?!!” teriakan Dani, ayah Clara yang kental akan
kemarahan itu begitu menggema sampai ke dalam Rumah.
“BI IJAAAH...” teriak Santi, ibu Clara yang juga naik pitam saat
itu.
Mbok Ijah yang saat itu sedang berada di dapur untuk memasak makan
malam pun langsung bergegas menuju arah teriakan itu berasal, setelah sempat
beristighfar sambil mengelus dadanya karena kaget akan teriakaan yang berasal
dari majikannya sendiri. Ia begitu takut melihat wajah-wajah majikannya yang
terlihat sedang menahan amarah, ia hanya bisa menunduk tak berani menatap wajah
kedua majikannya.
“Kerjaan siapa ini, heh?!!” bentak Dani pada mbok Ijah sambil salah
satu tangannya menggebrak badan mobil yang penuh coretan itu. Matanya melotot,
menatap garang pada wanita paruh baya dihadapanya.
“Saya ti...tidak tahu, Tuan.”
“Mbok Ijah di rumah sepanjang hari ngapain aja sih? Kalo ga becus
urus rumah ngomong dari dulu, jadi saya ga rugi gaji mbok tau gak?!” hardik
Santi kesal.
Mbok Ijah hanya bisa mendunduk, memilih bungkam. Peluru kata yang
dilepaskan oleh kedua majikannya itu terus menghujamnya, tak sedikit yang
mengenai ulu hatinya, beberapa meleset. Perkataan yang lontarakan oleh tuannya
itu sungguh tak sopan untuk ukuran orang yang lebih muda darinya. Namun, apa
daya, dia hanya seorang pembantu disini. Ia juga sudah biasa di perlakukan
seperti itu, karena profesinya tersebut.
Saat itu juga, Clara yang mendengar teriakan ayahnya pun keluar
dari kamarnya, berlari menuju orang tuanya berada.
“Clara yang membuat semua gambar itu ayaaah... bagus kan, yah?”
ujar Clara dengan manja sambil memeluk lengan ayahnya.
Ketika mengetahui hal tersebut, sang ayah yang sudah hilang
kesabarannya pun melepaskan genggaman Clara dari lengannya dan langsung
beranjak meninggalkan tempatnya berdiri. Ia kembali dengan sebatang ranting
kecil dari pohon di depan rumahnya. Di suruhnya Clara untuk menjulurkan kedua
tangan kanannya ke depan, seperti orang yang ingin ‘meminta’ lalu di
pukulkannya ranting kecil itu berkali-kali ke telapak tangan anaknya tersebut
secara bergantian, kanan lalu kiri. Tangisan Clara Pecah, karena rasa sakit
sekaligus pedih terus mendera telapak tangannya. Rasa takut pun kini
menyelimuti hatinya saat melihat sorot mata sangat ayah yang sangat menyeramkan
baginya dan saat ia melihat ke ibu hanya ada ‘dingin’ disana. Ia tak tahu
kesalahan apa yang telah di perbuatnya sehingga ia mendapat hukuman seperti ini.
Yang bisa ia lakukan saat ini hanya menangis sebagai penyalur dari rasa
sakitnya.
Setelah puas memukul kedua telapak tangannya, sang ayah beralih
dengan memukul kedua punggung tangan anaknya, terus menerus secara bergantian.
Sang ibu semenjak tadi hanya diam melihat kejadian tersebut, seolah merestui
dan merasa puas dengan hukuman yang diberikan oleh suaminya pada anaknya. Sedangkan
mbok Ijah sangat terkejut dengan apa yang dilakukan majikannya terhadap anak
semata wayangnya sendiri. Ia tak habir pikir dengan tuannya tersebut, betapa
teganya menghukum anak kandung dengan hal kejam seperti itu. Sungguh, ia tak
tega melihat itu semua. Tetapi disini juga ia hanya pembantu, ingat? ia tak
tahu haru berbuat apa, di posisi seperti ini rasanya begitu menyakitkan
baginya, karena tak bisa melakukan apa-apa untuk mencengah apalagi membantu
Clara. Hatinya begitu teriris melihat anak sekecil Clara di sakiti oleh ayah
kandungnya sendiri.
Setelah merasa hukuman itu cukup untuk membuat jera anaknya, Clara.
Dani yang diikuti istinya pun masuk ke dalam rumah. Bahkan sang ibu tak melirik
sedikitpun untuk melihat kondisi akhir anaknya pasca pemukulan itu. Mbok Ijah
segera mendekat ke Clara lalu merengkuhnya dalam pelukannya. Segera digendongnya
Clara menuju kamarnya. Disitu ia terperanjat melihat telapak tangan dan
punggung tangan Clara yang penuh luka dan berlumuran darah. Ia membawa Clara ke
kamar mandi dan memandikannya sambil membersihkan luka-luka yang bersimbah
darah pada kedua tangan anak itu dengan lembut dan hati-hati. Mereka berdua
menangis, menangis dalam suasana yang berbeda tentunya. Mbok Ijah menangis
karena merasa kasihan dan sakit melihat anak di hadapannya yang sudah dianggap sebagai
cucunya sendiri mengalami hal seperti ini, sungguh ia tak tega melihat tangan
Clara yang penuh luka dan bersimbah darah, hatinya begitu ngilu saat ini.
Sedangkan Clara menangis karena pedih yang ditimbulkan saat luka-luka itu
terkena air, bahkan sesekali ia menjerit. Malam itu Clara tidur bersama mbok
Ijah di kamar pembantu. Sang ayah juga sengaja membiarkan anaknya tidur bersama
pembantu rumahnya, sungguh tak ada rasa sesal sedikitpun.
***
Keesokan harinya, kedua telapak tangan sampai siku Clara bengkak.
Mbok Ijah yang takut karena itu langsung mengadu pada majikannya.
“Maaf, Tuan. Tangan non Clara bengkak....”
“Oleskan obat saja!” jawab Dani singkat, lalu beranjak keluar rumah
untuk pergi bekerja.
Pulang kerja pun sang ayah maupun ibu sama sekali tak memperhatikan
ataupun mencari keberadaan anaknya yang seharian menghabiskan waktu di kamar
pembantu. Dani, sang ayah memang berniat memberi pelajaran pada anaknya
tersebut.
Tiga hari pun telah berlalu, sang Ayah dan Ibu pun tak pernah
menjenguk ke kamar pembantu untuk sekadar melihat kondisi anaknya. Tiap harinya
sang Ibu hanya bertanya keadaan anaknya pada mbok Ijah.
“Clara demam, Bu.”
“Kasih Panadol anak aja kalo gitu,” jawab Santi.
Sebelum Santi masuk ke kamar tidur, dia menjenguk kamar pembantunya
dan saat melihat Clara dalam pelukan mbok Ijah, dia pun menutup pintu kamar itu
kembali. Sejujurnya ia sangat ingin berada dalam posisi mbok Ijah saat ini, ia
sangat ingin memeluk anak semata wayangnya itu, tetapi egonya saat ini lebih
menguasainya.
Seiring malam berganti pagi. Hangat sinar mentari pun menembus
celah-celah ventilasi udara rumah keluarga Dani. Mbok Ijah sudah terjaga semenjak
adzan subuh itu kini tengah cemas karena suhu badan Clara yang semakin tinggi,
bahkan baby Fever tak berpengaruh sedikitpun. Ia bahkan melakukan
pekerjaan rumah, dari mulai memasak dan bersih-bersih dengan serba cepat karena
tak tega meninggalkan Clara sendirian dalam kamar. Cemas itu selalu menghantui
sosok paruh baya tersebut. Ketika ia tengah menyiapkan makanan untuk sarapan,
seperti hari-hari sebelumnya Santi menanyakan keadaan anakknya pada mbok Ijah.
“Maaf, Bu. Suhu badan non Clara semakin tinggi, terlalu panas
menurut saya bu...”
“Yasudah, nanti sore kita bawa ke klinik. Setelah kami pulang
kerja, kita langsung kesana,” sahut Dani, menanggapi perkataan mbok Ijah.
Ketika sore tiba, Dan dan istrinya langsung membawa Clara ke klinik
dan dokter di klinik tersebut mengarahkan agar cepat membawa Clara ke Rumah
Sakit saja, karena menurut beliau keadaannya sudah sangat serius.
***
Beberapa hari telah berlalu, Clara pun masih dirawat inap di Rumah
Sakit. Pagi ini dokter memangil Ayah dan Ibu Clara untuk menghadap kepadanya.
“Kenapa dengan anak saya, dok?” ujar Dani membuka suara, saat
mereka sudah duduk berhadapan dengan Sang Dokter.
“Begini pak Dani, bu Santi, maaf sebelumnya...” dokter itu memberi
jeda pada ucapannya, segan untuk memberitahu kenyataan pahit yang akan di
hadapi oleh anak dari pasangan suami istri yang ada dihadapannya saat ini.
Sedangkan, Dani dan Santi menunggu dengan cemas dari setiap kata yang di
keluarkan dari mulut Sang dokter.
Ia menghela napas sejenak lalu melanjutkan ucapannya, “Tidak ada
pilihan lain, kedua tangan anak ibu dan dapak harus diamputasi sampai batas
siku, mengingat keadaan kedua tangan pasien sudah sangat parah dan infeksi akut
bahkan luka-luka yang ada di kedua tangan pasien mengeluarkan nanah. Amputasi
ini juga dilakukan demi menyelamatkan nyawa anak ibu dan bapak, bagaimana pak?
Bu?”
Dani dan Santi yang masih terlalu Syok dengan sederetan kata yang
di ucapkan oleh dokter itu hanya terdiam, membisu di tempatnya. Tak menanggapi
pertanyaan dari sang dokter. Pikiran
mereka saat itu langsung melayang pada kejadian saat anak mereka yang menangis
dan menjerit histeris, karena pukulan bertubi-tubi dari ranting pohon itu
mengenai anaknya. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Itulah yang mereka
rasakan saat ini.
Ya Tuhan... apa yang sebenarnya telah aku lalukan pada anakku
sendiri? sungguh saat itu emosi sangat menguasai diriku sampai tak sadar melakukan
hal yang membuat anak kandungku menjadi seperti ini. Ya Tuhan, aku sungguh
menyesal... batin Dani, ia menangis dalam diam. Menyesali atas apa yang
telah di perbuatnya.
Tak jauh beda dengan sang Suami, santi saat itu juga langsung
menangis terisak, ia menyalahkan dirinya yang saat kejadian itu tidak mencegah atau menolong
anaknya ketika sedang dipukul. Ia merasa telah menjadi sosok Ibu yang paling
jahat se-dunia karena telah membuat buah hatinya sendiri mengalami hal
menyedihkan seperti ini. Batinnya sungguh tertekan dan sakit, karena mengetahui
nasib anakknya setelah ini.
Bagaimanapun nasi
telah menjadi bubur, itu mungkin ungkapan yang tepat buat keduanya. Akhirnya,
demi kebaikan dan juga untuk keselamatan nyawa Clara, mereka memutuskan untuk
menyetujui perihal amputasi tersebut. Meskipun pada dasarnya mereka sungguh tak
akan tega dan kuat jika melihat reaksi dari Clara nantinya.
“Baiklah, karena
ibu dan bapak sudah menyetujui mengenai hal tersebut, maka silahkan... Bapak
pasien bisa mendatangani surat persetujuan pembedahan ini,” ujar sang dokter
seraya menyerahkan surat tersebut pada Dani untuk ditandatangi.
Dengan tangan
bergetar dan diiringi isakan sang istri, Dani mendatangi surat persetujuan
pembedahan untuk anaknya. Sebelum pembedahan itu dilaksanakan, Santi pergi ke
ruang rawat inap anaknya, ia mendapati Clara sedang berbaring di tempat tidur
sambil tersenyum lebar tetapi terkesan begitu rapuh kearahnya karena melihat ia
datang. Tanpa aba-aba di rengkuhnya Clara dalam dekapannya dan tangisannya pun
pecah saat itu juga, yang mengundang tanya pada Clara tentang sebab dari ibunya
itu menangis? Yang dijawab Santi hanya dengan senyuman kecil,
“Tidak ada apa-apa
kok, sayang. Ibu hanya kangen sama kamu, maafin Ibu yah sudah diemin kamu?
Marahin kamu juga,” jawabnya agak bergetar, karena menahan tangis.
“Ibu kan gak salah
apa-apa, kenapa minta maaf? Clara yang harusnya minta maaf sama ibu. Clara udah
jadi anak nakal. Ibu... ibu jangan nangis lagi yah... Clara ikut sedih kalo
liat Ibu nangis.”
Perkataan polos nan jujur dari anaknya itu sontak membuat air
matanya kembali menyeruak keluar membasahi pipinya dan di dekapnya kembali
Clara dalam pelukannya, seolah tak ingin berpisah dari anaknya tersebut barang
sedetikpun.
***
Pasca pembedahan Clara pun di
pindahan dari ruang ICU ke ruang rawat pasien. Setelah beberapa jam berlalu,
akhirnya Clara pun sadar. Samar-samar ia melihat ayah dan ibu Clara serta Mbok
Ijah ada di ruang tempat ia dirawat. Ketika benar-benar tersadar, seketika ia
langsung merasakan sakit pada sekujur tubuhnya, efek dari obat bius yang
disuntikan saat pembedahan berlangsung itu sudah habis sepertinya. Ia pun
menangis karena rasa sakit itu. Rasa heran menyeruak saat ia melihat kedua
tangannya yang dibalut oleh perban putih. Ditatapnya wajah syah, ibu, serta
mbok Ijah dengan harapan akan mendapat jawaban hanya dari tatapan yang dia
berikan pada mereka. Ia mengerutkan dahi, bingung melihat mereka semua yang
malah terisak dan menatapnya pilu. Mendapat tatapan seperti itu, Clara seolah
tahu apa yang telah terjadi dengannya. Tidak, maksudnya kedua tangannya.
Dalam siksaan menahan sakit yang
mendera sekujur tubuhnya, khususnya bagian kedua tangannya itu, Clara mencoba bersuara dengan tangis yang
masih membasahi pipinya yang semakin tirus.
“Ayah, Ibu... maafin Clara. Clara
tidak akan melakukannya lagi. Clara gak akan nakal lagi. Maafin Clara yah...
Ayah, tolong kembalikan tangan Clara. Untuk apa diambil? Clara janji deh gak
akan mengulanginya lagi! Clara janji gak akan mencoret-coret mobil ayah lagi!”
seru Clara sambil terisak.
Ia
mengatakannya berulang kali dengan bibir bergetar, karena menahan isakannya
sambil menatap pilu satu-persatu wajah ayah dan ibunya secara bergantian, hal
itu membuat sang ibu tak kuasa menahan rasa sedihnya, sambil menunduk dan
merangkul lengan sang Suami yang berdiri disebelahnya ia pun terisak. Sang ayah
hanya dapat membisu dan menatap sedih ke anaknya, ia mencoba menengadahkan
kepalanya untuk menahan agar bulir bening itu tak keluar. Tak ada yang membuka
suara untuk sekadar menjawab ucapan Clara, bahkan mbok Ijah pun hanya dapat
menunduk sambil terisak, ia tak kuasa melihat anak majikannya yang sudah ia
anggap cucunya itu seperti saat ini.
“Ayah,
kembalikan tangan Clara yah... bagaimana caranya Clara makan nanti? Bagaimana
Clara mau bermain nanti? Clara janji gak bakal jahat lagi! Clara sayang sama
ayah, sayang sama ibu. Clara juga sayang sama Bi Ijah... jadi tolong balikin
tangan Claraa yah...” lanjutnya sambil terus terisak.
Hanya
suara isakan dari Dani, Santi, dan mbok Ijah serta dinginnya dinding rumah
sakit yang membisu itu seolah menjadi jawaban atas apa yang di ungkapan Clara.
Pada
akhirnya, Clara akan meneruskan hidupnya tanpa kedua tangannya dan ia pun akan hidup
tanpa sekalipun mengetahui penyebab mengapa tangannya tetap ‘hilang’ meski ia
sudah meminta maaf.
***
Tahun
demi tahun telah berlalu meninggalkan jejak kenangan kelam bagi keluarga kecil
itu. Clara kecil sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang kuat. Dengan segala
keterbatasan dan kekurangannya ia dapat hidup mandiri, bahkan kini ia menjadi
pelukis dan pengusaha muda hebat yang dapat menginspirasi orang-orang ‘normal’,
tak memiliki keterbatasan seperti dirinya. Semenjak kejadian bebarapa tahun
silam, sikap ibu dan ayahnya pun begitu membuatnya merasakan hangatnya keluarga
sesungguhnya dan itulah yang membuatnya dapat tumbuh menjadi sosok yang hebat
seperti saat ini. Itu semua berkat didikan dan kasih sayang dari kedua orang
tuanya. mbok Ijah sudah tak bekerja pada orang tuanya, karena mengingat
tubuhnya yang semakin renta, walaupun seperti itu silaturahmi diantara keluarga
Clara dan mbok Ijah sampai saat ini masih terjalin dengan baik dan hangat.
Happy
End. J
No comments:
Post a Comment