Friday, October 31, 2014

Maafkan Clara, Yah




Sepenggal cerita berdasarkan kisah yang -entah nyata atau tidak- pernah penulis dengar dari bibir seseorang... mungkin di belahan dunia ini, ada kisah (nyata) yang hampir atau bahkan sama dengan cerita yang saya tulis, atau bahkan dengan akhir yang tidak bahagia. Banyak kemungkinan yang tak pernah kita duga kan? Karena saya adalah seorang wanita yang menyukai akhir bahagia dari sebuah cerita fiksi, tak mungkin saya akan tega menulis cerita ini dengan akhir yang menyedihkan. Yasudah, selamat membaca hihi 
___________________________________________________________________________


Maafkan Clara, Ayah
Oleh: Sun'Story

Hari ini matahari kembali tak lembut, seperti hari-hari sebelumnya, gadis kecil itu bangun tanpa sambutan ayah dan ibunya. Clara, nama gadis kecil yang kini baru menginjak usia 5 tahun itu sudah tak asing dengan suasana pagi yang sunyi sepi tanpa ada sapaan hangat dari kedua orang tuanya, karena pagi buta mereka sudah bergegas untuk bekerja. Clara ditinggal di rumah hanya dengan pembantu rumah tangga yang di pekerjakan oleh ibunya untuk mengurus rumah, dapur sekaligus untuk mengasuhnya. Sepi. Itulah yang mungkin selalu dirasakan Clara setiap harinya. Rumah besar bergaya eropa dengan taman luas yang ditumbuhi bunga-bunga cantik di dalamnya khusus didesain oleh sang arsitek dengan harapan akan menjadi rumah yang hangat untuk keluarga yang menempati rumah itu nantinya, kini seakan hanya ada di angan sang arsitek tersebut. Rumah ini bahkan terkesan begitu angkuh dan dingin, tak ada kehangatan sama sekali di dalamnya.
Clara biasa menghabiskan waktunya dengan bermain di taman, sendirian. Ia mengisi kekosongan dengan bermain ayunan, boneka, masak-masakan, bertanam lalu memetik bunga-bungga cantik dan atau apapun yang bisa membuatnya tak jenuh berdiam diri di dalam rumah. Jika kalian bertanya kenapa ia tidak bermain saja dengan teman-teman yang rumahnya bersebelahan dengannya? atau kenapa ia tak mengajak pengasuhnya untuk ikut bermain dengannya? Tentu saja, karena ia tak diperbolehkan oleh orang tuanya bermain keluar rumah dengan alasan bergaul dengan orang asing tak dikenal dengan baik itu yang ditakutkan akan berimbas tidak baik untuk Clara dan bla bla bla... alasan khas orang yang hidup di kota besar, begitu individualis. Ia juga tak mungkin mengajak pembantu rumah atau bisa disebut juga pengasuhnya untuk menemaninya bermain, karena mbok Ijah –nama pembantu­ itu- selalu sibuk membersihkan rumah, mencuci pakaian kotor dan atau berkutat dengan berbagai alat masak yang ada di dapur.
Pagi ini, orang tua Clara tak menggunakan mobil dan memilih mengendari motor untuk pergi bekerja untuk menghindari kemacematan. Terlihat dari mobil ayah Clara yang masih terparkir ‘manis’ di dalam bagasi mobil. Setelah makan pagi, Clara yang saat itu akan pergi ke taman dalam rumahnya tak sengaja menemukan sebatang paku di lantai bagasi yang sudah menguning; berkarat. Menurutnya, paku itu berwarna seperti crayon yang biasa ia gunakan untuk mewarnai. Ia sangat penasaran apakah benda itu bisa untuk mewarnai atau mengambar sesuatu apa tidak. Jadi, dengan paku itu ia mencoba mencorat-coret lantai di bagasi mobil tersebut, tetapi karena lantainya yang terbuat dari marmer maka coretan yang di hasilkan pun tidak begitu terlihat. Rasa penasaran itu pun berlanjut. Akhirnya ia pun mencoba membuat coretan pada badan mobil sang ayah yang masih bisa dibilang masih baru tersebut. Ia memulai membuat coretan pada badan mobil yang sebelah kanan, kebetulan mobil ayahnya itu berwana gelap, jadi coretan yang di hasilkan oleh sentuhan jemari kecil Clara pun terlihat begitu jelas. Clara merasa senang sekali, ia pun membuat lebih banyak coretan sesuai kreativitasnya dengan senyum yang terus menerus tersungging di bibir mungilnya. Setelah badan mobil sebelah kanan itu telah penuh dengan coretan hasil karyanya, ia lalu beralih ke badan mobil sebelah kiri. Disitu ia membuat gambar ibu, ayah, dan dirinya sendiri yang sedang bergandeng tangan dengan senyum yang menghiasi wajah mereka, ia juga menggambar seekor ayam, wajah kucing dan lain sebagainya, mengikuti imajinasi yang bersarang dalam otaknya saat itu sambil bersenandung kecil. Kejadian tersebut berlangsung tanpa disadari oleh mbok Ijah yang notabene diberi ‘wanti-wanti’ untuk memperhatikan tingkah atau hal yang diperbuat dari anak semata wayang pemilik rumah agar tidak merusak benda-benda yang ada di rumah. Karena menurut pemikiran mereka –orang tua Clara- anak seusia Clara tak bisa menjaga pola tingkahnya, dan sering bertidak semaunya, bahkan bisa saja merusak benda-benda mahal yang ada di dalam rumah mereka. Dan mereka tak mau semua hal itu terjadi.
Senja telah berlalu, meninggalkan guratan-guratan jingga dan kelabu yang menghiasi langit kota pada sore itu, seolah menjadi pertanda bahwa waktunya mereka yang seharian bekerja untuk kembali ke pelukkan hangat keluarga yang telah menanti di rumah.
            Betapa kagetnya Dani dan Santi saat ia pulang ke rumah dan melihat mobil yang baru setahun mereka beli dengan angsuran yang masih lama lunasnya itu telah penuh dengan coretan-coretan yang diduga hasil dari goresan paku yang ia ditemukan tepat di lantai samping badan mobil. Rasa marah yang amat sangat itu pun seketika itu menyeruak pada diri mereka masing-masing.
“KERJAAN SIAPA INI?!!” teriakan Dani, ayah Clara yang kental akan kemarahan itu begitu menggema sampai ke dalam Rumah.
“BI IJAAAH...” teriak Santi, ibu Clara yang juga naik pitam saat itu.
Mbok Ijah yang saat itu sedang berada di dapur untuk memasak makan malam pun langsung bergegas menuju arah teriakan itu berasal, setelah sempat beristighfar sambil mengelus dadanya karena kaget akan teriakaan yang berasal dari majikannya sendiri. Ia begitu takut melihat wajah-wajah majikannya yang terlihat sedang menahan amarah, ia hanya bisa menunduk tak berani menatap wajah kedua majikannya.
“Kerjaan siapa ini, heh?!!” bentak Dani pada mbok Ijah sambil salah satu tangannya menggebrak badan mobil yang penuh coretan itu. Matanya melotot, menatap garang pada wanita paruh baya dihadapanya.
“Saya ti...tidak tahu, Tuan.”
“Mbok Ijah di rumah sepanjang hari ngapain aja sih? Kalo ga becus urus rumah ngomong dari dulu, jadi saya ga rugi gaji mbok tau gak?!” hardik Santi kesal.
Mbok Ijah hanya bisa mendunduk, memilih bungkam. Peluru kata yang dilepaskan oleh kedua majikannya itu terus menghujamnya, tak sedikit yang mengenai ulu hatinya, beberapa meleset. Perkataan yang lontarakan oleh tuannya itu sungguh tak sopan untuk ukuran orang yang lebih muda darinya. Namun, apa daya, dia hanya seorang pembantu disini. Ia juga sudah biasa di perlakukan seperti itu, karena profesinya tersebut.
Saat itu juga, Clara yang mendengar teriakan ayahnya pun keluar dari kamarnya, berlari menuju orang tuanya berada.
“Clara yang membuat semua gambar itu ayaaah... bagus kan, yah?” ujar Clara dengan manja sambil memeluk lengan ayahnya.
Ketika mengetahui hal tersebut, sang ayah yang sudah hilang kesabarannya pun melepaskan genggaman Clara dari lengannya dan langsung beranjak meninggalkan tempatnya berdiri. Ia kembali dengan sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya. Di suruhnya Clara untuk menjulurkan kedua tangan kanannya ke depan, seperti orang yang ingin ‘meminta’ lalu di pukulkannya ranting kecil itu berkali-kali ke telapak tangan anaknya tersebut secara bergantian, kanan lalu kiri. Tangisan Clara Pecah, karena rasa sakit sekaligus pedih terus mendera telapak tangannya. Rasa takut pun kini menyelimuti hatinya saat melihat sorot mata sangat ayah yang sangat menyeramkan baginya dan saat ia melihat ke ibu hanya ada ‘dingin’ disana. Ia tak tahu kesalahan apa yang telah di perbuatnya sehingga ia mendapat hukuman seperti ini. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya menangis sebagai penyalur dari rasa sakitnya.
Setelah puas memukul kedua telapak tangannya, sang ayah beralih dengan memukul kedua punggung tangan anaknya, terus menerus secara bergantian. Sang ibu semenjak tadi hanya diam melihat kejadian tersebut, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang diberikan oleh suaminya pada anaknya. Sedangkan mbok Ijah sangat terkejut dengan apa yang dilakukan majikannya terhadap anak semata wayangnya sendiri. Ia tak habir pikir dengan tuannya tersebut, betapa teganya menghukum anak kandung dengan hal kejam seperti itu. Sungguh, ia tak tega melihat itu semua. Tetapi disini juga ia hanya pembantu, ingat? ia tak tahu haru berbuat apa, di posisi seperti ini rasanya begitu menyakitkan baginya, karena tak bisa melakukan apa-apa untuk mencengah apalagi membantu Clara. Hatinya begitu teriris melihat anak sekecil Clara di sakiti oleh ayah kandungnya sendiri. 
Setelah merasa hukuman itu cukup untuk membuat jera anaknya, Clara. Dani yang diikuti istinya pun masuk ke dalam rumah. Bahkan sang ibu tak melirik sedikitpun untuk melihat kondisi akhir anaknya pasca pemukulan itu. Mbok Ijah segera mendekat ke Clara lalu merengkuhnya dalam pelukannya. Segera digendongnya Clara menuju kamarnya. Disitu ia terperanjat melihat telapak tangan dan punggung tangan Clara yang penuh luka dan berlumuran darah. Ia membawa Clara ke kamar mandi dan memandikannya sambil membersihkan luka-luka yang bersimbah darah pada kedua tangan anak itu dengan lembut dan hati-hati. Mereka berdua menangis, menangis dalam suasana yang berbeda tentunya. Mbok Ijah menangis karena merasa kasihan dan sakit melihat anak di hadapannya yang sudah dianggap sebagai cucunya sendiri mengalami hal seperti ini, sungguh ia tak tega melihat tangan Clara yang penuh luka dan bersimbah darah, hatinya begitu ngilu saat ini. Sedangkan Clara menangis karena pedih yang ditimbulkan saat luka-luka itu terkena air, bahkan sesekali ia menjerit. Malam itu Clara tidur bersama mbok Ijah di kamar pembantu. Sang ayah juga sengaja membiarkan anaknya tidur bersama pembantu rumahnya, sungguh tak ada rasa sesal sedikitpun.
***
Keesokan harinya, kedua telapak tangan sampai siku Clara bengkak. Mbok Ijah yang takut karena itu langsung mengadu  pada majikannya.
“Maaf, Tuan. Tangan non Clara bengkak....”
“Oleskan obat saja!” jawab Dani singkat, lalu beranjak keluar rumah untuk pergi bekerja.
Pulang kerja pun sang ayah maupun ibu sama sekali tak memperhatikan ataupun mencari keberadaan anaknya yang seharian menghabiskan waktu di kamar pembantu. Dani, sang ayah memang berniat memberi pelajaran pada anaknya tersebut.
Tiga hari pun telah berlalu, sang Ayah dan Ibu pun tak pernah menjenguk ke kamar pembantu untuk sekadar melihat kondisi anaknya. Tiap harinya sang Ibu hanya bertanya keadaan anaknya pada mbok Ijah.
“Clara demam, Bu.”
“Kasih Panadol anak aja kalo gitu,” jawab Santi.
Sebelum Santi masuk ke kamar tidur, dia menjenguk kamar pembantunya dan saat melihat Clara dalam pelukan mbok Ijah, dia pun menutup pintu kamar itu kembali. Sejujurnya ia sangat ingin berada dalam posisi mbok Ijah saat ini, ia sangat ingin memeluk anak semata wayangnya itu, tetapi egonya saat ini lebih menguasainya.
Seiring malam berganti pagi. Hangat sinar mentari pun menembus celah-celah ventilasi udara rumah keluarga Dani. Mbok Ijah sudah terjaga semenjak adzan subuh itu kini tengah cemas karena suhu badan Clara yang semakin tinggi, bahkan baby Fever tak berpengaruh sedikitpun. Ia bahkan melakukan pekerjaan rumah, dari mulai memasak dan bersih-bersih dengan serba cepat karena tak tega meninggalkan Clara sendirian dalam kamar. Cemas itu selalu menghantui sosok paruh baya tersebut. Ketika ia tengah menyiapkan makanan untuk sarapan, seperti hari-hari sebelumnya Santi menanyakan keadaan anakknya pada mbok Ijah.
“Maaf, Bu. Suhu badan non Clara semakin tinggi, terlalu panas menurut saya bu...”
“Yasudah, nanti sore kita bawa ke klinik. Setelah kami pulang kerja, kita langsung kesana,” sahut Dani, menanggapi perkataan mbok Ijah.
Ketika sore tiba, Dan dan istrinya langsung membawa Clara ke klinik dan dokter di klinik tersebut mengarahkan agar cepat membawa Clara ke Rumah Sakit saja, karena menurut beliau keadaannya sudah sangat serius.
***
Beberapa hari telah berlalu, Clara pun masih dirawat inap di Rumah Sakit. Pagi ini dokter memangil Ayah dan Ibu Clara untuk menghadap kepadanya.
“Kenapa dengan anak saya, dok?” ujar Dani membuka suara, saat mereka sudah duduk berhadapan dengan Sang Dokter.
“Begini pak Dani, bu Santi, maaf sebelumnya...” dokter itu memberi jeda pada ucapannya, segan untuk memberitahu kenyataan pahit yang akan di hadapi oleh anak dari pasangan suami istri yang ada dihadapannya saat ini. Sedangkan, Dani dan Santi menunggu dengan cemas dari setiap kata yang di keluarkan dari mulut Sang dokter.
Ia menghela napas sejenak lalu melanjutkan ucapannya, “Tidak ada pilihan lain, kedua tangan anak ibu dan dapak harus diamputasi sampai batas siku, mengingat keadaan kedua tangan pasien sudah sangat parah dan infeksi akut bahkan luka-luka yang ada di kedua tangan pasien mengeluarkan nanah. Amputasi ini juga dilakukan demi menyelamatkan nyawa anak ibu dan bapak, bagaimana pak? Bu?”
Dani dan Santi yang masih terlalu Syok dengan sederetan kata yang di ucapkan oleh dokter itu hanya terdiam, membisu di tempatnya. Tak menanggapi pertanyaan dari sang dokter.  Pikiran mereka saat itu langsung melayang pada kejadian saat anak mereka yang menangis dan menjerit histeris, karena pukulan bertubi-tubi dari ranting pohon itu mengenai anaknya. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Itulah yang mereka rasakan saat ini.
Ya Tuhan... apa yang sebenarnya telah aku lalukan pada anakku sendiri? sungguh saat itu emosi sangat menguasai diriku sampai tak sadar melakukan hal yang membuat anak kandungku menjadi seperti ini. Ya Tuhan, aku sungguh menyesal... batin Dani, ia menangis dalam diam. Menyesali atas apa yang telah di perbuatnya.
Tak jauh beda dengan sang Suami, santi saat itu juga langsung menangis terisak, ia menyalahkan dirinya yang saat  kejadian itu tidak mencegah atau menolong anaknya ketika sedang dipukul. Ia merasa telah menjadi sosok Ibu yang paling jahat se-dunia karena telah membuat buah hatinya sendiri mengalami hal menyedihkan seperti ini. Batinnya sungguh tertekan dan sakit, karena mengetahui nasib anakknya setelah ini.
            Bagaimanapun nasi telah menjadi bubur, itu mungkin ungkapan yang tepat buat keduanya. Akhirnya, demi kebaikan dan juga untuk keselamatan nyawa Clara, mereka memutuskan untuk menyetujui perihal amputasi tersebut. Meskipun pada dasarnya mereka sungguh tak akan tega dan kuat jika melihat reaksi dari Clara nantinya.
            “Baiklah, karena ibu dan bapak sudah menyetujui mengenai hal tersebut, maka silahkan... Bapak pasien bisa mendatangani surat persetujuan pembedahan ini,” ujar sang dokter seraya menyerahkan surat tersebut pada Dani untuk ditandatangi.
            Dengan tangan bergetar dan diiringi isakan sang istri, Dani mendatangi surat persetujuan pembedahan untuk anaknya. Sebelum pembedahan itu dilaksanakan, Santi pergi ke ruang rawat inap anaknya, ia mendapati Clara sedang berbaring di tempat tidur sambil tersenyum lebar tetapi terkesan begitu rapuh kearahnya karena melihat ia datang. Tanpa aba-aba di rengkuhnya Clara dalam dekapannya dan tangisannya pun pecah saat itu juga, yang mengundang tanya pada Clara tentang sebab dari ibunya itu menangis? Yang dijawab Santi hanya dengan senyuman kecil,
            “Tidak ada apa-apa kok, sayang. Ibu hanya kangen sama kamu, maafin Ibu yah sudah diemin kamu? Marahin kamu juga,” jawabnya agak bergetar, karena menahan tangis.
            “Ibu kan gak salah apa-apa, kenapa minta maaf? Clara yang harusnya minta maaf sama ibu. Clara udah jadi anak nakal. Ibu... ibu jangan nangis lagi yah... Clara ikut sedih kalo liat Ibu nangis.”
Perkataan polos nan jujur dari anaknya itu sontak membuat air matanya kembali menyeruak keluar membasahi pipinya dan di dekapnya kembali Clara dalam pelukannya, seolah tak ingin berpisah dari anaknya tersebut barang sedetikpun.
***
            Pasca pembedahan Clara pun di pindahan dari ruang ICU ke ruang rawat pasien. Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Clara pun sadar. Samar-samar ia melihat ayah dan ibu Clara serta Mbok Ijah ada di ruang tempat ia dirawat. Ketika benar-benar tersadar, seketika ia langsung merasakan sakit pada sekujur tubuhnya, efek dari obat bius yang disuntikan saat pembedahan berlangsung itu sudah habis sepertinya. Ia pun menangis karena rasa sakit itu. Rasa heran menyeruak saat ia melihat kedua tangannya yang dibalut oleh perban putih. Ditatapnya wajah syah, ibu, serta mbok Ijah dengan harapan akan mendapat jawaban hanya dari tatapan yang dia berikan pada mereka. Ia mengerutkan dahi, bingung melihat mereka semua yang malah terisak dan menatapnya pilu. Mendapat tatapan seperti itu, Clara seolah tahu apa yang telah terjadi dengannya. Tidak, maksudnya kedua tangannya.
            Dalam siksaan menahan sakit yang mendera sekujur tubuhnya, khususnya bagian kedua tangannya itu,  Clara mencoba bersuara dengan tangis yang masih membasahi pipinya yang semakin tirus.
            “Ayah, Ibu... maafin Clara. Clara tidak akan melakukannya lagi. Clara gak akan nakal lagi. Maafin Clara yah... Ayah, tolong kembalikan tangan Clara. Untuk apa diambil? Clara janji deh gak akan mengulanginya lagi! Clara janji gak akan mencoret-coret mobil ayah lagi!” seru Clara sambil terisak.
Ia mengatakannya berulang kali dengan bibir bergetar, karena menahan isakannya sambil menatap pilu satu-persatu wajah ayah dan ibunya secara bergantian, hal itu membuat sang ibu tak kuasa menahan rasa sedihnya, sambil menunduk dan merangkul lengan sang Suami yang berdiri disebelahnya ia pun terisak. Sang ayah hanya dapat membisu dan menatap sedih ke anaknya, ia mencoba menengadahkan kepalanya untuk menahan agar bulir bening itu tak keluar. Tak ada yang membuka suara untuk sekadar menjawab ucapan Clara, bahkan mbok Ijah pun hanya dapat menunduk sambil terisak, ia tak kuasa melihat anak majikannya yang sudah ia anggap cucunya itu seperti saat ini.
“Ayah, kembalikan tangan Clara yah... bagaimana caranya Clara makan nanti? Bagaimana Clara mau bermain nanti? Clara janji gak bakal jahat lagi! Clara sayang sama ayah, sayang sama ibu. Clara juga sayang sama Bi Ijah... jadi tolong balikin tangan Claraa yah...” lanjutnya sambil terus terisak.
Hanya suara isakan dari Dani, Santi, dan mbok Ijah serta dinginnya dinding rumah sakit yang membisu itu seolah menjadi jawaban atas apa yang di ungkapan Clara.
Pada akhirnya, Clara akan meneruskan hidupnya tanpa kedua tangannya dan ia pun akan hidup tanpa sekalipun mengetahui penyebab mengapa tangannya tetap ‘hilang’ meski ia sudah meminta maaf.
***
Tahun demi tahun telah berlalu meninggalkan jejak kenangan kelam bagi keluarga kecil itu. Clara kecil sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang kuat. Dengan segala keterbatasan dan kekurangannya ia dapat hidup mandiri, bahkan kini ia menjadi pelukis dan pengusaha muda hebat yang dapat menginspirasi orang-orang ‘normal’, tak memiliki keterbatasan seperti dirinya. Semenjak kejadian bebarapa tahun silam, sikap ibu dan ayahnya pun begitu membuatnya merasakan hangatnya keluarga sesungguhnya dan itulah yang membuatnya dapat tumbuh menjadi sosok yang hebat seperti saat ini. Itu semua berkat didikan dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. mbok Ijah sudah tak bekerja pada orang tuanya, karena mengingat tubuhnya yang semakin renta, walaupun seperti itu silaturahmi diantara keluarga Clara dan mbok Ijah sampai saat ini masih terjalin dengan baik dan hangat.
Happy End. J

No comments:

Post a Comment