Get Married? What!
Oleh : Sun'Story
![]() |
| -visualisasi dari tokoh cerita ini- |
Sudah seharian aku menyusuri kota Jakarta hanya ditemani si ‘V’
sekadar untuk me-refresh pikiran yang
dipenuhi oleh beban-beban di kantor yang memenuhi otakku akhir-akhir ini. Tak terasa senja sudah merayap keperaduan
meninggalkan jejak temaram di kota ini. Lalu lalang kendaraan semakin padat,
karena memang ini adalah waktu untuk mereka yang pulang setelah seharian
membanting tulang. Suara bising dari kendaraan bermotor dan lampu-lampu
penerang jalanan yang berpendar dalam senja pun melengkapi suasana sore ini. Aku
memakirkan mobilkudi depan sebuah cafe kecil di tepi jalan. Aku memutuskan
untuk mengisi perutku terlebih dahulu, karena cacing-cacing di perut pun
sepertinya sudah mulai protes untuk diberi asupan makanan, selain itu aku juga
sangat haus. Aku pun melangkahkan kakiku memasuki cafe yang sudah lama menjadi
langgananku. Cafe bergaya vintage ini begitu sederhana, penampilan retro
dan klasik yang menghiasi setiap sudut ruangan dapat membuat pengunjung merasa
nyaman dan betah berlama-lama di cafe ini. Kaca besar transparan di bagian
paling luar cafe dengan view yang
menghadapkan langsung pengunjung untuk
menikmati keramaian kota Jakarta menjadi nilai plus tersendiri buatku selain
makanannya yang lezat tapi tak menguras saku.
“Coklat Panas sama
eum... Cheese Cake, satu,” kataku
pada salah satu pelayan cafe yang mendatangi tempat dimana aku duduk, di sudut
cafe bagian luar di dekat bingkai kaca besar yang menjadi pembatas antara luar
dan dalam cafe.
“Oke. Apa ada lagi?”
“Tidak ada, terima kasih.” Setelah mencatat pesananku pelayan itu
pun pergi.
Sambil bersenandung, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut
cafe, mengamati apapun yang ada di cafe,
kebiasanku. Saat itu pandanganku berhenti dengan sosok lelaki yangduduk
menyendiri di dalam cafe dekat kaca besar yang menghadap langsung ke jalan
raya, hanya ditemani secangkir kopi dan laptop miliknya. Entah ini namanya
kebetulan atau memang jodoh? karena setiap aku mengunjungi cafe ini, aku selalu
melihatnya dalam kepungan cahaya cafe yang redup, pantulan sinarnya bahkan tak
kuasa menyembunyikan wajah tampannya yang nampak begitu mempesona sekaligus
angkuh. Ketampanan yang dapat membuat bidadari secara sukarela berterbangan
dengan pesonanya masing-masing mengitarinya dan menyuguhkan aneka tawaran yang
pasti dapat ia hisap saripati kenikmatannya. Lihat saja, para wanita yang ada
di dalam cafe ini bahkan secara terang-terangan menatap sosoknya dengan tatapan
memuja sekaligus penuh damba!
Aku tersadar oleh suara pelayan yang mengantarkan pesananku,
setelah lama berperang dengan setuja rasa yang ada dalam benakku saat aku
menatapnya dalam diam . Semenjak menemukan keberadaan cafe ini, aku memang
sangat sering mengunjungi cafe ini, untuk sekadar melepas penat dan mencari
kenyamanan setelah seharian bergulat dengan tugas di kantor ataupun untuk hanya
untuk menyesap nikmatnya secangkir coklat panas. Dalam rentang beberapa minggu
itu pula aku selalu melihat sosok lelaki itu duduk ditempat itu –tempat yang
mungkin menjadi tempat favoritnya di cafe ini-, ketika aku mengunjungi cafe.
Jujur saja, lelaki itu juga yang membuatku betah lama-lama berada di cafe ini.
Ada rasa senang yang membucah saat aku dapat menatap wajah aristokratnya yang
begitu mempesona dan pasti akan lebih mempesona jika ia tersenyum, aku yakin
itu. Aku memang tak tahu lelaki itu siapa dan datangnya dari mana. Tapi
entahlah, ketika melihatnya ada ketertarikan tersendiri dan ada sesuatu yang
membuatku dengan suka hati ingin menyerahkan pundakku sebagai sandarannya saat
sedang menghadapi masa-masa sulit dan aku bahkan siap melemparkan tubuhku
secara suka rela untuk didekapnya, hanya sekadar untuk sedikit mengurangi resah
dan kalut dari masalah-masalah yang tengah dihadapinya.
Aku telah menyelesaikan acara makanku sejak semenit yang lalu. Aku
menikmati suasana luar cafe yang semakin menggelap sembari menyesap coklat
panasku dan juga sesekali mencuri pandang ke arahnya, seketika itu aku melihat
dia berjalan menuju kasir, mengeluarkan beberapa lembar rupiah lalu keluar dari
cafe. Aku memperhatikan setiap gerak geriknya sampai ia menghilang dalam
pandanganku.
Malam mulai membungkus wajah kota Jakarta yang telah dihiasi
lampu-lampu kendaraan yang belalu lalang, seperti kunang-kunang yang merayap
pada batang pohon. Aku pun memutuskan untuk pulang, karena selain malam yang
sudah menyapa juga karena objek yang ku sukai itu sudah tak ada didalam
pandanganku.
***
Seminggu berlalu, aku melihat lelaki itu lagi, duduk di dalam cafe
-di tempat biasa- menghadap ke arah jalanan. Lelah itu sangat terlihat jelas
dalam raut mukanya. Namun, tak seperti minggu-minggu lalu, ia sudah terlihat
lebih baik. Eum, maksudku raut wajahnya sudah tak seperti sebelumnya, tetapi
tetap saja dingin dan terksesan angkuh! Seperti biasa ia hanya di temani
secangkir kopi, kali ini ia tak membawa laptop. Aku melangkahkan kakiku
memasuki cafe, setelah mendapatkan segelas coklat panas, aku memberanikan
diri melangkah menuju meja dimana ia
duduk.
“Permisi, boleh aku duduk disini? Kamu sendirian kan?” tanyaku
ragu, takut dengan reaksi apa yang akan dia tunjukan padaku.
Namun, Lelaki ini hanya diam seperti tak mendegar pernyataanku.
Apakah dia tuli? Apa memang sebenarnya dia itu pada dasarnya lelaki tampan tapi
sombong? apa jangan-jangan lelaki ini hanya halusinasiku saja seperti di salah
drama yang sering ku tonton saat menghabiskan waktu luang. Akh, tapi tak
mungkin kalau dia itu halusinasiku saja, karena setiap wanita disini selalu
menatap kagum pada sosoknya saat melihatnya duduk termenung di sudut cafe. Aku
menggelengkan kepalaku, tak setuju dengan dugaanku yang terakhir. Tanpa
persetujuannya, aku akhirnya duduk di depannya.
“Oke, aku duduk disini yah,” ucapku padanya, tapi masih saja tak
dihiraukannya,
“hey? Kau tak mendengarkan ucapanku ya?” aku melambaikan
tanganku di depan wajahnya.
Lelaki ini akhirnya tersadar lalu menatapku. Spontan, aku pun
tersenyum menampakan deretan gigiku yang rapi. Ia menatapku intens dalam diam,
raut wajahnya datar dan dingin. Senyumku perlahan menghilang, diganti oleh
perasaan canggung dan juga ditatap seperti itu oleh lelaki tampan yang ku sukai
membuatku merasa... akh, entahlah. Aku melihat senyum miring terukir di
wajahnya yang menambah kadar ketampanannya, lalu ia menyesap kopinya yang
tinggal setengah dengan gerakan yang begitu seksi menurutku. Betapa
beruntungnya aku, dari jarak sedekat ini aku dapat melihat sosok tampannya
dengan sangat jelas. Garis rahang yang tegas, mata yang tajam, hidung mancung
serta bibirnya yang seakan mengundang untuk dikecup itu membuatku tak bisa
bernapas dengan baik. Ya Tuhan! Dalam jarak sedekat ini aku bisa merasakan
darahku berdesir hebat juga detak jantungku yang berpacu cepat tak seperti
biasanya. Aku menundukan kepala lalu mencoba menenangkan diriku dengan mengatur
napasku perlahan agar tak terlihat kaku dan salah tingkah dihadapannya.
“Bukankah kau wanita yang sering menatapku diam-diam dari arah
sana?” ucapnya, aku dapat melihat dari
ekor mataku tangannya menujuk ke arah tempat aku biasa duduk di cafe ini.
Aku terhentak akan
ucapannya,
“eh? Kau mengatakan apa?” aku hanya ingin memastikan apa yang aku dengar
itu benar atau hanya perasaanku saja.
“Kau wanita yang sering menatapku diam-diam dari sudut sana kan?
Apa aku salah?” ia bernyata dengan wajah
tanpa dosa disertai senyuman miringnya. Aku tergagap. Aku tak tahu harus
berkata apa di saat sudah tertangkap basah seperti ini.
Rasanya malu sekali tertangkap basah sering menatap dan mengamati
diam-dia oleh orang yang ditatap itu sendiri! Ya Tuhan. Wajahku pasti sudah
seperti kepiting rebus.
“A.. ah, kau mungkin salah orang! Iyah, benar. Kau pasti salah
mengenali orang,” jawabku agak terbata, tak mampu menatap langsung ke manik
mata lelaki itu.
Tuhan, selamatkan hamba-Mu yang cantik ini!
“Tidak mungkin aku salah mengenali wajahmu, nona... eum, tidak. Mungkin
lebih tepatnya, bagaimana aku tidak mengenali seorang Jhasmine Putra Atmadja?” ucapnya
dengan alis terangkat, ada nada menggoda saat ia menyebutkan namaku. Sial! Demi
apapun, dari mana dia mengetahui namaku! aku memalingkan wajahku, meruntuki apa
yang sedang terjadi.
“Mengetahui namamu itu hal yang paling mudah bagiku, nona,”
lanjutnya seakaan dapat membaca apa yang sedang aku pikirkan saat ini.
“Ka..kau sepertinya salah orang, tuan!” timpalku cepat, kemudian
beranjak dari tempatku duduk. Aku mengambil langkah panjang, bergegas untuk
keluar cafe dan menjauh dari lelaki asing itu secepat mungkin. Shit!
Aku menyesali perbuatanku yang tanpa berpikir panjang menghampiri
sosok itu, tapi mau bagaimana lagi aku juga sangat ini memandang wajahnya dari
dekat, tak memelu bersembunyi dalam jarak jauh untuk sekadar ingin menikmati
wajah yang selalu hadir dalam bunga tidurku. Sejujurnya, selama satu bulan
terakhir ini aku merasakan gelenyar aneh tapi menyenangkan yang merambati
tubuhku setiap kali aku menatap wajahnya apalagi saat ia tersenyum, walaupun
itu senyum samar hal itu mampu membuat pipiku memanas seakan senyum itu hanya
ditujukan untukku.
Aku terus meruntuki kejadian di dalam cafe tadi sembari terus
melangkahkan kakiku cepat menuju dimana mobilku diparkirkan dan saat itu juga
aku merasakan seseorang mencengkeram pergelangan tanganku, menahanku untuk
melangkah lebih lanjut.
Tak sempat aku memaki orang yang seenaknya mencengkram lenganku,
orang itu kemudian -yang beberapa detik selanjutnya kuketahui ternyata adalah
lelaki itu- menyeretku secara paksa dan kasar agar mengikuti langkahnya. Aku
terus berontak dan mencoba melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tanganku,
walau ku tahu tenagaku pasti kalah kuat dibandingkan tenaganya.
Ia membawaku ke lorong sepi di samping cafe dekat parkiran. Ia
menyudutkanku pada dinding kokoh disana. Kedua tangannya kini sudah berada di
kedua pundakku, menahannya sementara ia menunduk, mengatur napasnya yang tak
teratur. Aku pun mencoba melepaskan jemari-jemari tangganya yang mencengkram
pundakku. Napasku memburu menahan amarah karena perlakuannya yang keterlaluan
menurutku untuk ukuran orang yang baru bertegur sapa,
“apa sih yang sebenarnya ada di otakmu itu? Tolong jauhkan badanmu
dariku! Lepaskan tangganmu dari pundakku sekarang juga dan biarkan aku pulang atau
aku akan berteriak!” ancamku yang hanya ditanggapi dengan seringaian darinya.
Sialnya, Ia malah menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Aku menegang, seluruh
tubuhku merasa kaku, karena pelukan tiba-tiba ini. Aku tak dapat berkutik,
antara pikiran dan hasrat alamiah tubuhku saling bertentangan dengan
perlakuannya untukku.
“Setelah apa yang kau lakukan padaku akhir-akhir ini, jangan harap aku
akan melepaskanmu Jhasmine.” Ia semakin mengeratkan pelukannya padaku, tak ada
lagi jarak diantara kami sekarang, bahkan aku bisa mencium wangi musk yang
menguar dari tubuh liatnya. Dengan jarak sedekat ini aku bisa merasakan debar
jantungnya yang begitu cepat. Aku membeku dalam pelukannya, merasa nyaman dan
aman dalam rengkuhannya yang begitu posesif.
Lalu ia tiba-tiba melepaskan pelukannya. Aku merasa sedikit kecewa
akan itu. Ia meraih daguku, menyuruhku mendongakan
wajahnya untuk menatap matanya. Memang tinggi badanku yang hanya sebatas
pundaknya mengharuskanku mendongak saat menatapnya. Aku dan dia saling menatap
lekat dan intens tepat pada manik mata kami masing-masing dalam diam, langit
senja yang menguning kemerahan seakan menjadi penonton dari moment tersebut.
Aku menemukan kedamaian saat aku menatap manik matanya dan aku menyukainya. Kau
tahu aku tak ingin mengakhiri moment ini! Seakan terhipnotis saat tatapan itu
menghujamku. Kemudian salah satu tangannya merengkuh pinggangku, membawaku
mendekat padannya sampai tak ada jarak diantara kami.Jemari tangan satunya yang
bebas itu lalu membelai wajahku lembut, mendekatkan wajahnya ke wajahku
perlahan, lalu mencium bibirku. Ia menciumku begitu lembut, sangat lembut
malah. Seakan aku ini adalah benda rapuh yang jika tergores sedikit akan rusak.
Sial, anjing jalananpun mengetahui aku menikmatinya setiap kali bibirnya
menekan bibirku. Ia menyudahi moment intim tersebut tanpa kuinginkan. Ia
menatapku lembut.
“Menikahlah denganku, Jhasmine. Dan yah.. panggil aku Dave.” What?
Aku mengerjapkan mataku tak percaya akan rangkaian kata yang baru saja ia
ucapkan padaku. Aku menatapnya dengan dahi berkerut, menuntut penjelasan akan
ucapannya, yang di tanggapi hanya dengan mengangkat alis sembari tersenyum
miring dan menggindikkan bahunya.
Menikah? Apa ia bercanda? Mana mungkin aku menikah dengan seseorang
yang bahkan mengetahui namanya saja baru beberapa detik yang lalu!
End.

No comments:
Post a Comment