Saturday, January 3, 2015

Get Married? What!
Oleh : Sun'Story

-visualisasi dari tokoh cerita ini-
Silahkan dibaca! :* Yang penting jangan salin tempel karya orang tanpa izin/ tanpa credit, buat cerita segini itu butuh muter otak juga soalnya, jadi diharapkan bisa menjadi pembaca yang baik, RCL kalo bisa! >< 

Sudah seharian aku menyusuri kota Jakarta hanya ditemani si ‘V’ sekadar untuk me-refresh pikiran yang dipenuhi oleh beban-beban di kantor yang memenuhi otakku akhir-akhir ini.  Tak terasa senja sudah merayap keperaduan meninggalkan jejak temaram di kota ini. Lalu lalang kendaraan semakin padat, karena memang ini adalah waktu untuk mereka yang pulang setelah seharian membanting tulang. Suara bising dari kendaraan bermotor dan lampu-lampu penerang jalanan yang berpendar dalam senja pun melengkapi suasana sore ini. Aku memakirkan mobilkudi depan sebuah cafe kecil di tepi jalan. Aku memutuskan untuk mengisi perutku terlebih dahulu, karena cacing-cacing di perut pun sepertinya sudah mulai protes untuk diberi asupan makanan, selain itu aku juga sangat haus. Aku pun melangkahkan kakiku memasuki cafe yang sudah lama menjadi langgananku. Cafe bergaya vintage ini begitu sederhana, penampilan retro dan klasik yang menghiasi setiap sudut ruangan dapat membuat pengunjung merasa nyaman dan betah berlama-lama di cafe ini. Kaca besar transparan di bagian paling luar cafe dengan view yang menghadapkan langsung  pengunjung untuk menikmati keramaian kota Jakarta menjadi nilai plus tersendiri buatku selain makanannya yang lezat tapi tak menguras saku.

“Coklat Panas sama eum... Cheese Cake, satu,” kataku pada salah satu pelayan cafe yang mendatangi tempat dimana aku duduk, di sudut cafe bagian luar di dekat bingkai kaca besar yang menjadi pembatas antara luar dan dalam cafe.

“Oke. Apa ada lagi?”

“Tidak ada, terima kasih.” Setelah mencatat pesananku pelayan itu pun pergi.

Sambil bersenandung, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut cafe, mengamati  apapun yang ada di cafe, kebiasanku. Saat itu pandanganku berhenti dengan sosok lelaki yangduduk menyendiri di dalam cafe dekat kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya, hanya ditemani secangkir kopi dan laptop miliknya. Entah ini namanya kebetulan atau memang jodoh? karena setiap aku mengunjungi cafe ini, aku selalu melihatnya dalam kepungan cahaya cafe yang redup, pantulan sinarnya bahkan tak kuasa menyembunyikan wajah tampannya yang nampak begitu mempesona sekaligus angkuh. Ketampanan yang dapat membuat bidadari secara sukarela berterbangan dengan pesonanya masing-masing mengitarinya dan menyuguhkan aneka tawaran yang pasti dapat ia hisap saripati kenikmatannya. Lihat saja, para wanita yang ada di dalam cafe ini bahkan secara terang-terangan menatap sosoknya dengan tatapan memuja sekaligus penuh damba!

Aku tersadar oleh suara pelayan yang mengantarkan pesananku, setelah lama berperang dengan setuja rasa yang ada dalam benakku saat aku menatapnya dalam diam . Semenjak menemukan keberadaan cafe ini, aku memang sangat sering mengunjungi cafe ini, untuk sekadar melepas penat dan mencari kenyamanan setelah seharian bergulat dengan tugas di kantor ataupun untuk hanya untuk menyesap nikmatnya secangkir coklat panas. Dalam rentang beberapa minggu itu pula aku selalu melihat sosok lelaki itu duduk ditempat itu –tempat yang mungkin menjadi tempat favoritnya di cafe ini-, ketika aku mengunjungi cafe. Jujur saja, lelaki itu juga yang membuatku betah lama-lama berada di cafe ini. Ada rasa senang yang membucah saat aku dapat menatap wajah aristokratnya yang begitu mempesona dan pasti akan lebih mempesona jika ia tersenyum, aku yakin itu. Aku memang tak tahu lelaki itu siapa dan datangnya dari mana. Tapi entahlah, ketika melihatnya ada ketertarikan tersendiri dan ada sesuatu yang membuatku dengan suka hati ingin menyerahkan pundakku sebagai sandarannya saat sedang menghadapi masa-masa sulit dan aku bahkan siap melemparkan tubuhku secara suka rela untuk didekapnya, hanya sekadar untuk sedikit mengurangi resah dan kalut dari masalah-masalah yang tengah dihadapinya.

Aku telah menyelesaikan acara makanku sejak semenit yang lalu. Aku menikmati suasana luar cafe yang semakin menggelap sembari menyesap coklat panasku dan juga sesekali mencuri pandang ke arahnya, seketika itu aku melihat dia berjalan menuju kasir, mengeluarkan beberapa lembar rupiah lalu keluar dari cafe. Aku memperhatikan setiap gerak geriknya sampai ia menghilang dalam pandanganku.
Malam mulai membungkus wajah kota Jakarta yang telah dihiasi lampu-lampu kendaraan yang belalu lalang, seperti kunang-kunang yang merayap pada batang pohon. Aku pun memutuskan untuk pulang, karena selain malam yang sudah menyapa juga karena objek yang ku sukai itu sudah tak ada didalam pandanganku.
***

Seminggu berlalu, aku melihat lelaki itu lagi, duduk di dalam cafe -di tempat biasa- menghadap ke arah jalanan. Lelah itu sangat terlihat jelas dalam raut mukanya. Namun, tak seperti minggu-minggu lalu, ia sudah terlihat lebih baik. Eum, maksudku raut wajahnya sudah tak seperti sebelumnya, tetapi tetap saja dingin dan terksesan angkuh! Seperti biasa ia hanya di temani secangkir kopi, kali ini ia tak membawa laptop. Aku melangkahkan kakiku memasuki cafe, setelah mendapatkan segelas coklat panas, aku memberanikan diri  melangkah menuju meja dimana ia duduk.

“Permisi, boleh aku duduk disini? Kamu sendirian kan?” tanyaku ragu, takut dengan reaksi apa yang akan dia tunjukan padaku.

Namun, Lelaki ini hanya diam seperti tak mendegar pernyataanku. Apakah dia tuli? Apa memang sebenarnya dia itu pada dasarnya lelaki tampan tapi sombong? apa jangan-jangan lelaki ini hanya halusinasiku saja seperti di salah drama yang sering ku tonton saat menghabiskan waktu luang. Akh, tapi tak mungkin kalau dia itu halusinasiku saja, karena setiap wanita disini selalu menatap kagum pada sosoknya saat melihatnya duduk termenung di sudut cafe. Aku menggelengkan kepalaku, tak setuju dengan dugaanku yang terakhir. Tanpa persetujuannya, aku akhirnya duduk di depannya.

“Oke, aku duduk disini yah,” ucapku padanya, tapi masih saja tak dihiraukannya, 

“hey? Kau tak mendengarkan ucapanku ya?” aku melambaikan tanganku di depan wajahnya.

Lelaki ini akhirnya tersadar lalu menatapku. Spontan, aku pun tersenyum menampakan deretan gigiku yang rapi. Ia menatapku intens dalam diam, raut wajahnya datar dan dingin. Senyumku perlahan menghilang, diganti oleh perasaan canggung dan juga ditatap seperti itu oleh lelaki tampan yang ku sukai membuatku merasa... akh, entahlah. Aku melihat senyum miring terukir di wajahnya yang menambah kadar ketampanannya, lalu ia menyesap kopinya yang tinggal setengah dengan gerakan yang begitu seksi menurutku. Betapa beruntungnya aku, dari jarak sedekat ini aku dapat melihat sosok tampannya dengan sangat jelas. Garis rahang yang tegas, mata yang tajam, hidung mancung serta bibirnya yang seakan mengundang untuk dikecup itu membuatku tak bisa bernapas dengan baik. Ya Tuhan! Dalam jarak sedekat ini aku bisa merasakan darahku berdesir hebat juga detak jantungku yang berpacu cepat tak seperti biasanya. Aku menundukan kepala lalu mencoba menenangkan diriku dengan mengatur napasku perlahan agar tak terlihat kaku dan salah tingkah dihadapannya.

“Bukankah kau wanita yang sering menatapku diam-diam dari arah sana?”  ucapnya, aku dapat melihat dari ekor mataku tangannya menujuk ke arah tempat aku biasa duduk di cafe ini.

Aku  terhentak akan ucapannya,
“eh? Kau mengatakan apa?” aku hanya ingin memastikan apa yang aku dengar itu benar atau hanya perasaanku saja.

“Kau wanita yang sering menatapku diam-diam dari sudut sana kan? Apa aku salah?” ia bernyata dengan wajah  tanpa dosa disertai senyuman miringnya. Aku tergagap. Aku tak tahu harus berkata apa di saat sudah tertangkap basah seperti ini.

Rasanya malu sekali tertangkap basah sering menatap dan mengamati diam-dia oleh orang yang ditatap itu sendiri! Ya Tuhan. Wajahku pasti sudah seperti kepiting rebus.

“A.. ah, kau mungkin salah orang! Iyah, benar. Kau pasti salah mengenali orang,” jawabku agak terbata, tak mampu menatap langsung ke manik mata lelaki itu.

Tuhan, selamatkan hamba-Mu yang cantik ini!

“Tidak mungkin aku salah mengenali wajahmu, nona... eum, tidak. Mungkin lebih tepatnya, bagaimana aku tidak mengenali seorang Jhasmine Putra Atmadja?” ucapnya dengan alis terangkat, ada nada menggoda saat ia menyebutkan namaku. Sial! Demi apapun, dari mana dia mengetahui namaku! aku memalingkan wajahku, meruntuki apa yang sedang terjadi.

“Mengetahui namamu itu hal yang paling mudah bagiku, nona,” lanjutnya seakaan dapat membaca apa yang sedang aku pikirkan saat ini.

“Ka..kau sepertinya salah orang, tuan!” timpalku cepat, kemudian beranjak dari tempatku duduk. Aku mengambil langkah panjang, bergegas untuk keluar cafe dan menjauh dari lelaki asing itu secepat mungkin. Shit!

Aku menyesali perbuatanku yang tanpa berpikir panjang menghampiri sosok itu, tapi mau bagaimana lagi aku juga sangat ini memandang wajahnya dari dekat, tak memelu bersembunyi dalam jarak jauh untuk sekadar ingin menikmati wajah yang selalu hadir dalam bunga tidurku. Sejujurnya, selama satu bulan terakhir ini aku merasakan gelenyar aneh tapi menyenangkan yang merambati tubuhku setiap kali aku menatap wajahnya apalagi saat ia tersenyum, walaupun itu senyum samar hal itu mampu membuat pipiku memanas seakan senyum itu hanya ditujukan untukku.

Aku terus meruntuki kejadian di dalam cafe tadi sembari terus melangkahkan kakiku cepat menuju dimana mobilku diparkirkan dan saat itu juga aku merasakan seseorang mencengkeram pergelangan tanganku, menahanku untuk melangkah lebih lanjut.

Tak sempat aku memaki orang yang seenaknya mencengkram lenganku, orang itu kemudian -yang beberapa detik selanjutnya kuketahui ternyata adalah lelaki itu- menyeretku secara paksa dan kasar agar mengikuti langkahnya. Aku terus berontak dan mencoba melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tanganku, walau ku tahu tenagaku pasti kalah kuat dibandingkan tenaganya.

Ia membawaku ke lorong sepi di samping cafe dekat parkiran. Ia menyudutkanku pada dinding kokoh disana. Kedua tangannya kini sudah berada di kedua pundakku, menahannya sementara ia menunduk, mengatur napasnya yang tak teratur. Aku pun mencoba melepaskan jemari-jemari tangganya yang mencengkram pundakku. Napasku memburu menahan amarah karena perlakuannya yang keterlaluan menurutku untuk ukuran orang yang baru bertegur sapa,

“apa sih yang sebenarnya ada di otakmu itu? Tolong jauhkan badanmu dariku! Lepaskan tangganmu dari pundakku sekarang juga dan biarkan aku pulang atau aku akan berteriak!” ancamku yang hanya ditanggapi dengan seringaian darinya. Sialnya, Ia malah menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Aku menegang, seluruh tubuhku merasa kaku, karena pelukan tiba-tiba ini. Aku tak dapat berkutik, antara pikiran dan hasrat alamiah tubuhku saling bertentangan dengan perlakuannya untukku.

“Setelah apa yang kau lakukan padaku akhir-akhir ini, jangan harap aku akan melepaskanmu Jhasmine.” Ia semakin mengeratkan pelukannya padaku, tak ada lagi jarak diantara kami sekarang, bahkan aku bisa mencium wangi musk yang menguar dari tubuh liatnya. Dengan jarak sedekat ini aku bisa merasakan debar jantungnya yang begitu cepat. Aku membeku dalam pelukannya, merasa nyaman dan aman dalam rengkuhannya yang begitu posesif.

Lalu ia tiba-tiba melepaskan pelukannya. Aku merasa sedikit kecewa akan itu. Ia meraih daguku, menyuruhku mendongakan wajahnya untuk menatap matanya. Memang tinggi badanku yang hanya sebatas pundaknya mengharuskanku mendongak saat menatapnya. Aku dan dia saling menatap lekat dan intens tepat pada manik mata kami masing-masing dalam diam, langit senja yang menguning kemerahan seakan menjadi penonton dari moment tersebut. Aku menemukan kedamaian saat aku menatap manik matanya dan aku menyukainya. Kau tahu aku tak ingin mengakhiri moment ini! Seakan terhipnotis saat tatapan itu menghujamku. Kemudian salah satu tangannya merengkuh pinggangku, membawaku mendekat padannya sampai tak ada jarak diantara kami.Jemari tangan satunya yang bebas itu lalu membelai wajahku lembut, mendekatkan wajahnya ke wajahku perlahan, lalu mencium bibirku. Ia menciumku begitu lembut, sangat lembut malah. Seakan aku ini adalah benda rapuh yang jika tergores sedikit akan rusak. Sial, anjing jalananpun mengetahui aku menikmatinya setiap kali bibirnya menekan bibirku. Ia menyudahi moment intim tersebut tanpa kuinginkan. Ia menatapku lembut.

“Menikahlah denganku, Jhasmine. Dan yah.. panggil aku Dave.” What? Aku mengerjapkan mataku tak percaya akan rangkaian kata yang baru saja ia ucapkan padaku. Aku menatapnya dengan dahi berkerut, menuntut penjelasan akan ucapannya, yang di tanggapi hanya dengan mengangkat alis sembari tersenyum miring dan menggindikkan bahunya.

Menikah? Apa ia bercanda? Mana mungkin aku menikah dengan seseorang yang bahkan mengetahui namanya saja baru beberapa detik yang lalu!


End.

No comments:

Post a Comment